Sabtu, 04 Oktober 2014

Hari 4 Oktober 2014, seperti biasa bagiku tanggal hari ini selalu penuh kenangan. Tadi pagi waktu ibu nelpon, pengen banget nanya gimana keadaan orang di Denpasar. Pengen nanyain tentang bapak, apa bapak baik-baik saja hari ini. Tetapi urung kutanyakan, karena takut melukai mereka lagi dan membuka lembar kenangan luka itu. Hari ini bertepatan dengan Saraswati, aku menyibukkan diri membantu KMHD untuk ngayah di parahyangan UNDIKSHA. Meski begitu, pikiranku masih saja teralihkan memikirkan kejadian 2 tahun yang lalu itu. Rasanya ada sesuatu yang menyakitkan saat kudengar seseorang menyebut kata "Dadong/nenek". Aku merindukan almarhumah. Terutama hari ini. Meski aku tahu kepergian beliau itu adalah yang terbaik, tetapi aku selalu merasa menyesal tidak bisa memberi beliau yang terbaik dalam seumur hidupku bersama beliau. Aku hanya bisa melukai beliau. Sekarang saat beliau tidak ada di dunia ini lagi, Aku tahu beliau menyatu dalam ragaku, menemaniku setiap saat dan di manapun aku berada. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh. Setiap pulang ke rumah di Denpasar, tak ada lagi yang bertanya seperti beliau biasanya. 

Kamis, 02 Oktober 2014

Hari ini tiba - tiba aku tersadar, bahwa ada seseorang yang tengah melakukan hal yang dulu pernah dilakukan oleh dia yang menjadi masa laluku. Entah bagaimana reaksikupun masih sama seperti dahulu. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi orang ini. Adakah ini pertanda? Yang pasti tiba-tiba saja terkuak rasa rindu dalam dadaku kepada dia. Rasanya sesak, apalagi saat kulihat beranda facebookku yang menampilkan fotonya bersama gadis lain. Kilatan masa lalu itu menggoresku tepat di saat aku ingin membiasakan diri tanpa dia.

Senin, 29 September 2014

Catatanku

Semester 3 aku mulai belajar bolos kuliah demi mempersiapkan materi kuliah yang lain. Seumur-umur ini pertama kalinya aku ngalamin hal ini. Aku mulai mengerti bahwa memang seperti itulah hidup, harus ada sesuatu yang dikorbankan untuk mencapai sesuatu yang lain. Rasanya semester 3 ini makin memberatkan aku. Aku masih belum terbiasa sendiri dan segala kondisi yang menuntutku berpikir dengan otakku. Di awal semester ini aku kehilangan banyak orang yang kusayangi. Kilatan pedih itu masih kian menggoresku. Sakitnya masih sangat menusukku. Rasa kecewa itu masih terus menghantuiku. Tapi tak ada satupun yang memberi semangat, tak seorangpun menlontarkan kata maaf. Yang tersisa hanya aku menguatkan diriku sendiri, meminta bertahan di atas serpihan hati yang kian runtuh dan berantakan tak bersisa. 
Segalanya tidak berjalan dengan baik, aku benar-benar tidak dalam kondisi yang baik. Aku tidak bisa berpura-pura lagi semuanya baik-baik saja, aku tidak bisa terus-terusan berpura-pura tegar dihadapan mereka. Aku rapuh, benar - benar rapuh. Aku goyah, bahkan tanpa ada yang menyentuh bulir air mata itu mampu jatuh. Sendi-sendi pertahanan ini tak mampu lagi menyanggaku, pilar pertahananku runtuh sudah. Dalam kesendirian ini, hanya menyisakan bayangan yang kian memudar. Kenyataannya, aku tak kan bisa lagi memiliki dan bertemu dengan pemilik bayangan ini. Semua tidak berjalan sebaik yang aku harapkan saat bayangan itu makin kabur dalam ingatanku. Impian bersama bayangan itupun sudah sirna.