Selasa, 02 September 2014

Aku tidak bisa menyelesaikan semua ini. Aku gak tau sebenernya apa masalahnya. Hanya aku merasa kita itu ada masalah. Mungkin masalahnya ada pada jarak, pada waktu dan ruang yang memisahkan kita, menjadi penyekat antara aku dan kamu. Ataukah kesibukan kita untuk mengenali lingkungan baru kita membuat kita saling melupakan. Atakah aku yang secara tidak sengaja berlari menjauh hingga menjadi seperti ini. Aku tidak tau tepatnya apa, yang kulihat kamu semakin mengabaikanku. Lewat caramu aku merasa kamu mulai mengacuhkanku, mengabaikan aku dan mulai memasukkan aku ke dalam daftar masa lalumu. Dan bagiku perasaan bodoh ini begitu menyakitkan dan begitu mengganggu hari - hariku yang sudah dijejali berbagai masalah. Ada sejuta kecewa yang tak pernah aku ungkapkan, kecewa akan perlakuanmu kini padaku, kecewa karena selama setahun ke belakang hanya aku saja yang memperjuangkan, kecewa atas janji - janji yang tak pernah sekalipun berusaha kamu tepati. Rasanya mungkin akan lebih baik bila sejak awal aku tidak mengenal kamu lalu tidak mau belajar mempercayai kamu. Aku menyesal membuang - buang waktuku bersama kamu. Seharusnya sejak dulu aku tak membangun ikatan apapun padamu. Bagiku kita sudah tak seirama lagi, aku sesuatu yang membuat kita menjadi seperti sekarang. Bagiku semua ini harus berakhir dan biar aku mengakhirinya seperti ini. Karena memang ini adalah salah satu hal yang tidak bisa aku ceritakan, tidak bisa dibicarakan dan tak bisa terbahasakan. Rasa kecewa yang bertumpuk ini sudah meracuni otakku dan sekarang bagiku kita itu masa lalu. Masa lalu itu selamanya hanya akan menjadi masa lalu yang gak bakal pernah menjadi masa kini apalagi masa depan. Selamat tinggal kamu. Ini adalah contoh hal yang harus diolah pake rasa dan gak bisa diselesaikan dengan logika. Begitulah rasaku sekarang, semua harus diakhiri, aku harus berhenti peduli pada kamu yang sama sekali tak lagi memperdulikanku, harus berhenti memperjuangkan kamu yang bahkan enggan untuk diperjuangkan. Mungkin ini yang terbaik, daripada aku terus - terusan buang - buang waktu dan memeras perasaan dan pikiranku untuk kamu.

Minggu, 24 Agustus 2014

Jarak Memutuskan Kita

Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Jarak begitu hebatnya hingga bisa membuat keadaan menjadi begini. Kebersamaan yang telah diukir selama 3 tahun di SMA itu kini tiada artinya lagi. Yang tersisa kini tinggalah bayang - bayang kenangan bagaimana dulu kita menghabiskan waktu bersama. Apa yang aku takutkan saat aku memutuskan untuk kuliah di Singaraja akhirnya benar - benar terjadi. Kita tak mungkin bisa bersama, bila aku memilih jalan ke kanan, sementara kamu malah berjalan ke arah kiri. Rasa kecewaku yang nyaris setahun kebelakang kupedam kini tak lagi sanggup kutahan. Aku memang egois, sedari dulu kamu mengetahui itu. Aku tak bisa bertahan memahami kamu lagi. Kita sudah lama terpisahkan jarak. Bahkan kamu tak sekalipun dalam sehari pernah bertanya bagaimana aku menjalani hari hariku disini. Kamu terlalu sibuk bersama mereka yang kini mengisi harimu, mungkin itu penyebab kamu melupakan aku. Bahkan ketika aku pulang ke Denpasar, kamu tak seharipun eh sejampun mau meluangkan waktu untuk bertemu denganku. Mungkin benar persahabatan itu hadir karena kebersamaan. Dan kini saat kita sudah tak bersama - sama lagi, maka persahabatan kita usai sudah. Selamat jalan geng Dong Yiku, jalan sudah berbeda sekarang. Terima kasih untuk mengisi hari - hariku dulu di SMA.
Sekarang kita udah jadi kayak foto kita yang satu ini - tertinggal bayangannya saja-
SELAMAT

Rabu, 20 Agustus 2014

Akulah pemeran utama dalam panggung sandiwara,
Tersenyum dan tertawa saat hati terluka,
Berpura - pura biasa padahal dalam hati merana,
Bersembunyi agar tak seorangpun kan menyangka,
Dalam - dalam telah tersimpan sakit yang kian mendera,

Derai air mata silih berganti menghiasi hari,
Senantiasa menambah duka dalam hati,
Tiada lagi  kawan yang diam di sisi,
Semuanya telah pergi dan takkan kembali,
Yang tersisa kini hanyalah sepi,

Rasa sesal yang kian membara,
Dalam hati yang tak bisa lagi kusangkal,
Ada kecewa yang ingin terungkap,
Secercah amarah yang telah terpendam sekian lama,
Serta sekelumit masalah yang seolah menyatu dalam jiwa.