Jumat, 19 September 2014

Ternyata semua masih baik-baik saja. Hehe, kakak masih sama seperti sebelumnya. Malam itu, adalah belajar PDB yang paling menyenangkan. Oke, aku mempermalukan diriku sendiri karena tidak mengerti hal yang sederhana itu. Tetapi, kakak masih dengan sabar mengajariku. Tak ada satu pun keluh kesah yang meluncur dari mulut kakak mengajari aku yang sangat-sangat lola. Ada tawa dan kata-kata penuh inspirasi yang membuka pikiranku tentang segalanya. Aku harap semua akan selalu begitu.
Meski kukatakan tiap semester mesti berganti teman, aku berharap aku gak akan mengganti kamu sebagai temanku. Aku ingin tiap hari-hariku ada kakak, bisa berbicara, saling mengejek, bercanda bersama bahkan saling serang. Seperti kemarin tiba - tiba kakak sms dan bilang mau ke kos. Seneng banget deh, tapi sayang karena mesti buat tugas Kalkulus, terpaksa kita bertemu di Sekretariat HMJ. Gak bisa mengobrol banyak deh. Tapi, tetep seneng karena meski gak kuliah tetep bisa ketemu kakak. Astungkara bisa temenan sama kamu terus.

Rabu, 17 September 2014

Seseorang menjauhkan kakak dari aku, sekalipun dia cowok aku tetep gak suka. Karena dia seolah menggantikan posisiku yang biasanya selalu kakak susahkan. Aku gak suka, karena dia membuat kakak seolah menarik diri dari lingkungan kakak. Kakak seperti punya dunia sendiri sekarang dengan orang itu, dan rasa - rasanya aku gak mungkin lagi menjadi bagian dunia kakak. Yah, sekalipun tanpa keberadaan orang itu, aku memang bukan siapa-siapanya kakak. Mungkin benar, masa ini masa - masanya kita melangkah sendiri. Dan mungkin, ini waktunya aku untuk berhenti bergantung pada kakak.

Minggu, 14 September 2014

Terima Kasih

Terima kasih buat bapak sama ibu atas segala yang kalian berikan padaku selama kurang lebih 20 tahun hidupku. Terima kasih atas perjuangan kalian memperjuangkan hal yang terbaik untuk hidupku. Terima kasih untuk adikku yang tersayang untuk mewarnai hidupku selama nyaris 18 tahun berllau. Terima kasih untuk almarhum nenekku yang telah memberi kasih sayang yang begitu besar selama nyaris 18 tahun hidupmu. Terima kasih untuk kalian orang - orang terdekatku untuk sellau menjadi orang pertama yang mendukungku. Terima kasih untuk doa-doa kalian semua yang tak henti-hentinya berharap aku akan menjadi yang terbaik. Terima kasih untuk terus mencintai aku, meski acap kali aku malah bersikap seolah tak peduli. Terima kasih untuk orang - orang yang masih setia menemani langkah kakiku berjalan hingga hari ini. Terima kasih untuk orang-orang yang selalu menjadi cahaya penerang saat aku ragu akan jalanku. Terima kasih untuk kalian semua yang tidak meninggalkan aku meski aku meminta kalian untuk meninggalkan aku. Terima kasih untuk orang - orang yang bersedia mendengar setiap celoteh tidak penting dari mulutku. Terima kasih untuk alam semesta yang selalu memberiku tempat dimanapun aku berada. Teristimewa sekali, terima kasih kepada Tuhan yang memberikan aku kesempatan untuk hidup bersama mereka. Terima kasih Tuhan yang selalu menggenggam tanganku agar tidak terjatuh lagi. Terima kasih Tuhan untuk segala yang kau berikan padaku.