Kamis, 03 September 2015

Aku takut dipermainkan, takut dikecewakan, takut kalau aku akan ditinggalkan. Aku takut hanya jadi obyek penderita. Aku gak tau harus bersikap bagaimana. Aku gak tau apa ini cuma iseng isengan atau memang serius. Aku gak tau. Satu hal yang pastti, aku tidak mau terluka. Aku tidak menerima lagi sakit hati.

Selasa, 01 September 2015

Pengakuanku

Setelah berlari dan bersembunyi selama bertahun-tahin, kini aku menyadari bahwa aku salah. Pelarian dan persembunyian itu tidak membuat hidupku membaik, aku selalu tidak meraa tenang. Berhenti menstalker dia ternyata adalah hal yang keliru. Sejak tangan ini terbiasa menginput namanya di keyboard handphoneku, aku merasa lebih tenang. Meskipun, hatiku merasa sakit saat melihat fotonya bersama perempuan lain. Tetapi itu adalah kenyataan yang tidak bisa diubah seberapa keras aku mencoba. Aku hanya bagian masa lalunya. Dan kini ada gadis lain yang lebih beruntung dariku yang berhasil mendampinginya. Aku belajar bahagia buat dia dengan orang lain.

Minggu, 23 Agustus 2015

Tadi sore pas aku mau ke kampus untuk kerpok workshop, tiba-tiba aku menyadari sekarang nggak ada bedanya dengan yang terjadi tahun lalu. Sekali lagi, aku tidak menemukan alasan untuk berjuang di tempat itu. Sekali lagi, rasanya begitu asing berada diantara mereka. Aku gak bisa terus terusan berpura pura baik baik saja. Aku gak sekuat seperti apa yang aku bayangkan. Dan seperti tahun lalu, aku akan melarikan diri lagi. Kali ini mungkin aku akan bertemu dia yang menghadirkan harapan di saat aku merasa dunia benar-benar berpihak lagi padaku. Harusnya aku tak menyianyiakan dia dulu, kini bila kutemukan dia lagi kujaminkan hati bahwa aku akan meninggalkan tempat itu, bila dengan begitu aku bisa bersama dia. Sederhana, aku menyesal dan kini kuakui aku merindukan dia.