Jumat, 27 Februari 2015

Sejarah Kota Denpasar


SEJARAH KOTA DENPASAR
 PENDAHULUAN
Denpasar pada mulanya merupakan pusat Kerajaan Badung,akhirnya pula tetap menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan bahkan mulai tahun 1958 Denpasar dijadikan pula pusat pemerintahan bagi Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Dengan Denpasar dijadikan pusat pemerintahan bagi Tingkat II Badung maupun Tingkat I Bali mengalami pertumbuhan yang sangat cepat baik dalam artian fisik, ekonomi, maupun sosial budaya. Keadaan fisik Kota Denpasar dan sekitarnya telah sedemikian maju serta pula kehidupan masyarakatnya telah banyak menunjukkan ciri-ciri dan sifat perkotaan. Denpasar menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat industri dan pusat pariwisata yang terdiri dari 4 Kecamatan, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Timur, Denpasar Selatan dan Denpasar Utara. Melihat perkembangan Kota Administratif Denpasar ini dari berbagai sektor sangat pesat, maka tidak mungkin hanya ditangani oleh Pemerintah yang berstatus Kota Administratif. Oleh karena itu sudah waktunya dibentuk pemerintahan kota yang mempunyai wewenang otonomi untuk mengatur dan mengurus daerah perkotaan sehingga permasalahan kota dapat ditangani lebih cepat dan tepat serta pelayanan pada masyarakat perkotaan semakin cepat.
  PROSES PEMBENTUKAN KOTA DENPASAR
 Seperti halnya dengan kota-kota lainnya di Indonesia, Kota Denpasar merupakan Ibukota Propinsi mengalami pertumbuhan dan perkembangan penduduk serta lajunya pembangunan di segala bidang terus meningkat, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kota itu sendiri. Demikian pula dengan Kota Denpasar yang merupakan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan sekaligus juga merupakan Ibukota Propinsi Daerah Tingkat I Bali mengalami pertumbuhan demikian pesatnya. Pertumbuhan penduduknya rata-rata 4,05% per tahun dan dibarengi pula lajunya pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor, sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap Kota Denpasar, yang akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan perkotaan yang harus diselesaikan dan diatasi oleh Pemerintah Kota Administratif, baik dalam memenuhi kebutuhan maupun tuntutan masyarakat perkotaan yang demikian terus meningkat. Berdasarkan kondisi obyektif dan berbagai pertimbangan antara Tingkat I dan Tingkat II Badung telah dicapai kesepakatan untuk meningkatkan status Kota Administratif Denpasar menjadi Kota Denpasar. Dan akhirnya pada tanggal 15 Januari 1992, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Denpasar lahir dan telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Pebruari 1992 sehingga merupakan babak baru bagi penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah Tingkat I Bali, Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan juga bagi Kota Denpasar. Bagi Propinsi Daerah Tingkat I Bali adalah merupakan pengembangan yang dulunya 8 Daerah Tingkat II sekarang menjadi 9 Daerah Tingkat II. Sedangkan bagi Kabupaten Badung kehilangan sebagian wilayah serta potensi yang terkandung didalamnya. Bagi Kota Denpasar yang merupakan babak baru dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang walaupun merupakan Daerah Tingkat II yang terbungsu di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Bali.
Maskot  :
Menjadikan bunga jempiring sebagai Maskot Kota Denpasar dicetuskan pertama kalinya oleh Bapak Walikota Denpasar A.A Puspayoga pada saat syukuran dan malam hiburan memperingati Dasa Warsa Kota Denpasar, tanggal 27 Pebruari 2002 bertempat di Lapangan Puputan Badung.
 Tempat yang bersejarah bagi masyarakat Denpasar dahulu Badung, karena di tempat ini pulalah terjadi peristiwa Puputan Badung 96 tahun silam.
Di tempat yang bersejarah ini pula tepatnya pada pukul 17.30 Wita dicetuskan untuk pertama kalinya ide menjadikan bunga jempiring sebagai Maskot Kota Denpasar. Tentu dengan harapan disosialisasikan dan diusahakan ditanam di setiap pekarangan rumah tangga warga Kota Denpasar.
Alasan dijadikan jempiring sebagai Maskot Kota Denpasar karena bunganya berwarna putih bersih dan harum, daunnya berwarna hijau dan bisa dipakai obat (loloh) untuk penyembuhan panas dalam dan sangat gampang tumbuhnya serta sangat tepat diusahakan untuk tanaman penghijauan. Disamping itu jempiring juga memiliki nilai artistik yang tinggi dan nilai ekonomis karena bunganya dapat dijual untuk kepentingan upakara.
Kalau jempiring direfleksikan pada diri manusia, bunga yang putih bersih melambangkan kesucian atau kejernihan fikiran dan perbuatan yang jujur, bunga yang harum memberi daya tarik pada setiap insan sebagai simbul kewibawaan dan taksu, serta daunnya yang berwarna hijau melambangkan kesejukan atau ketentraman hati.
Semua ini sebagai perlambang untuk menuntun kita selalu mengusahakan yang terbaik, untuk diri kita sendiri, orang lain, lingkungan dan Kota Denpasar.




Sabtu, 14 Februari 2015

Happy Valentine to You

Happy Valentine Day ya <3

Her, apa kabarmu? Kamu merayakan Valentine kali ini di mana? Bersama siapa? Dengan orang yang kamu cintaikah?
Aku tak memiliki kenangan yang indah tentang merayakan Valentine bersama kamu, meski begitu tetap saja hari ini aku merindukan kamu. Rasanya akan menyenangkan bila aku bisa merayakannya bersamamu.
Her, hari ini aku merayakan Valentine di daerah Bangli bersama teman-teman pengurus KMHD YBV UNDIKSHA. Kami berhasil menjelajahi Penglipuran, Bebatuan hingga Danau di Batur, meskipun cuacanya tidak mendukung.
Her, tetap saja aku merasa sedih dan kosong hari ini. Sepanjang hari ini, aku melakukan instrospeksi diri, aku menoleh dan menerawang ke masa laluku. meski yang kutemukan hanya pahit, tetapi aku menyadari bahwa semenjak kepergianmu itu aku terus menerus mencari sosokmu dalam diri orang-orang yang ada di sekitarku. Hari ini, aku mengerti bahwa aku lelah melakukan itu.

Minggu, 08 Februari 2015

Ingin Mencintai Bayangmu Lagi

makin ke sini aku jadi makin mengerti orang yang bagaimana yang memang sesuai dengan yang aku perlukan. makin ke sini juga aku menjadi makin menyesal karena pernah membiarkan orang yang sebenarnya aku perlukan meninggalkan kehidupanku. sering rasa kesepian itu muncul, saat aku berada di tengah-tengah orang tetapi aku tidak mengerti pembicaraan mereka, atau saat aku di tengah-tengah orang tetapi tidak tau mesti berbicara apa alias tidak ada yang mengajak berbicara. tetapi aku haruslah jujur, karena jika aku terus berpura-pura rasanya aku jadi lebih menyedihkan. aku ingin kembali memperjuangkan kamu Hermawan, hanya saja aku tidak tau adakah itu artinya lagi. paling tidak biarkan aku setiap saat menyebut namamu dalam hatiku, agar aku tidak merasa sendiri lagi. biarkan aku bergantung sekali lagi padamu hanya agar aku tidak merasa terjatuh lagi. walau aku tahu itu semua hanya ada dalam mimpiku saja.